Selamat berkunjung ke blog helwanpunya..............

Alhamdulillah, adalah suatu kehormatan anda bersedia berkunjung ke blog ini. terus terang saja, blog ini diharapkan untuk menghimpun para blogger yang mungkin perlu informasi banyak tentang mesjid Al Aqsho dan kebiadaban Yahudi Zionis. Insya Allah kami selama berusaha untuk senantiasa tidak ketinggalan terhadap perkembangan mengenai mesjid Al Aqsho tersebut. Nah...teman-teman inilah blog helwanpunya, atau untuk jalin komunikasi bisa hubungi email saya : helwan1428@yahoo.co.id

Alhamdulillah, dapat juga kita bikin kayak gini. Bagi saya ini adalah hal yang baru, namun berkat ada teman yang kasih info, n bakar semangat, kemudian sedikit bimbingan, trus jadi blog sederhana ini. Rencana saya, ini mudah-mudahan bisa dijadikan media silaturahim, trus tukar pikiran, adu pendapat, sharing info, sarana dakwah dunia maya dan yang terpenting untuk tasyakur kepada Allah Subhanahu Wata'ala.Teman-teman sesama blogger, saya sekarang lagi intens terhadap masalah mesjid Al Aqsho.Bagi kaum muslimin sedunia, mesjid ini adalah situs yang sangat sarat makna-makna historis keislaman dan mengandung keuniversalitasan islam. namun sayangnya, saat ini mesjid Al Aqsho dalam genggaman kolonialisme Yahudi Zionis Israel. So...para blogger, terutama yang peduli betapa beharganya nilai sejarah dan mulianya darah manusia, yuuk kita bantu perjuangan pembebasan mesjid Al Aqsho dan kemerdekaan rakyat Palestina. Kita punya pikiran, kedua tangan, kedua kaki, sedikit harta, dan yang terpenting hati tulus yang senantiasa mendoakan.

Rabu, 09 April 2008

Ketika Hawa Nafsu Menjadi ‘Tuhan’

Hawa nafsu Allah cipta untuk manusia, sesungguhnya merupakan bagian dari karunia Nya. Dengan hawa nafsu dunia jadi begitu berarti bagi manusia. Mereka bisa merasakan keindahannya dan menikmati berbagai perhiasan yang terdapat di dalamnya. Semua itu, dalam rangka agar dapat membantu manusia dalam menyelesaikan dengan baik ‘tugas’ yang Allah pikulkan di muka bumi, sebagai kholifah.
Namun pada kenyataannya, yang terjadi adalah manusia telah kebablasan dalam berinteraksi dengan hawa nafsunya. Mereka memperturutkan hawa nafsu, memenuhi setiap saat dorongan hawa nafsu. Hawa nafsu menjadi tolak ukur tunggal. Keindahan, kemuliaan, kehormatan, cinta, benci, semua diukur dengan hawa nafsu belaka. Bahkan dalam menerima, menolak, mengerjakan maupun meninggalkan sesuatu tunduk pada ketentuan hawa nafsu. Akhirnya sampai pada tingkat yang paling prinsip, benar-salah pun ditimbang dengan hawa nafsu semata. Kalau sudah demikian, mereka sebenarnya sedang mempertuhankan hawa nafsunya, sebagaimana firman Allah:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya? Dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (QS. 45:23)
Apa jadinya jika manusia seperti itu? Jawabnya Cuma satu, yakni pasti terjadi kerusakan. Kerusakan dimensi fisik, seperti alam beserta apa yang ada di atasnya, baik di darat maupun di laut. Kemudian kerusakan non fisik, seperti akhlak, moral, spiritual, dan lain sebagainya. Fakta tentang hal ini tidak terlalu sulit untuk didapat, karena sudah sangat banyak. Seperti: Hutan yang gundul, tanah yang longsor, laut yang tercemar dan terkuras, lubang ozon yang semakin membesar, pembunuhan, pemerkosaan, pemerasan, perampokan, pencurian, korupsi, perzinahan, dan lain sebagainya. Lebih celakanya lagi kerusakan ini cenderung meningkat baik segi kuantitas maupun kualitas.
Allah dalam alquran menegaskan tentang hal ini:
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. 23:71)
Padahal sesungguhnya Allah telah sangat terang memberikan pengajaran bagaimana cara menempatkan dan mengendalikan hawa nafsu. Agar ia justru berpotensi untuk kemaslahatan manusia itu sendiri, turut memelihara kemuliaan dan mempertahankan kemanusiaannya.
Sejak belum terlahir, disaat ruh baru ditiupkan Allah telah mengambil janji dan menanamkan fitrah bagi manusia (QS.7:172). Kemudian Ia mengilhamkan ketaqwaan dan fujur (fasik), QS.91:8. Ketaqwaan untuk diikuti, kemudian fujur sebagi ujian. Selanjutnya Allah utus Rasul untuk menjadi contoh teladan bagi mereka (QS. 33:21), dengan syariat yang telah baku dan sempurna (QS.5:3). Allah balas dengan kebaikan berlipat ganda setiap upaya positif yang mereka lakukan. Sebaliknya Dia tegur dengan sedikit ujian dan musibah terhadap penyimpangan yang terjadi. Akhirnya, Allah janjikan mereka kenikmatan abadi di syurga bagi yang berhasil menundukkan hawa nafsu demi mencapai ketaqwaan. Begitupula siksaan selamanya di neraka terhadap yang melakukan kebalikannya. Lengkap sudah. Lantas apa yang kurang?
Begitulah, sebenarnya dunia ini hanyalah negeri ujian. Dan ternyata hawa nafsu adalah ujian terpenting. Apakah kita menundukkannya sehingga yang keluar darinya hanya kebaikan belaka. Atau justru memperturuti seluruh gerak-geriknya kemana pun ia membawa kita.
Akhirnya, sungguh beruntung mereka yang memiliki nafsu, namun senantiasa dirahmati Allah. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. 12:53)

“…….maka kembalilah kepada Allah”

Bencana berdatangan silih berganti. Kebakaran, banjir, gempa bumi, badai, tanah longsor, kemarau, dan seterusnya. Apakah ia terjadi berkorelasi positif dengan akhlak manusia yang semakin tidak beradab? Tentu saja. Maraknya pencurian hingga perampokan, korupsi, pembunuhan, pembantaian, pemerkosaan atau perzinahan, dan lain-lain, adalah buktinya. Ironis memang. Justru kerusakan dipelopori oleh makhluk yang bahkan dicipta untuk menjadi sponsor kebaikan dan perdamaian. Akan tetapi itulah manusia.
Sebenarnya isyarat bahwa manusia identik dengan problem kerusakan di muka bumi sudah terlihat ketika ia baru akan dicipta, dan diungkapkan oleh Allah kepada para malaikat.
“Dan (ingatlah) ketika Allah telah berfirman kepada para malaikat: “Aku akan menjadkan khalifah di bumi”. Mereka (para malaikat) lalu berkata: Apakah Engkau akan menjadikan makhluq yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami selalu mensucikan-Mu dengan memuji-Mu serta memuliakan-Mu?”. Allah berfirman: “Aku mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui”. (QS.2:30).
Kerusakan dan pertumpahan darah yang disinyalir para malaikat benar-benar telah terjadi. Bahkan sudah dimulai disaat dunia baru ‘seumur jagung’. Ketika Qobil, putra Adam ‘alahisallam, menumpahkan darah saudaranya sendiri, Habil. Hingga sekarang dosa rintisan Qobil ini sepertinya akan terus berlangsung, dengan kwantitas dan kwalitas yang cenderung meningkat. Apakah manusia harus senantiasa identik dengan kerusakan dan pertumpahan darah? Jawabannya adalah “tidak” apabila ia senantiasa mengikuti seruan fithrah dirinya yang telah Allah ilhamkan kepadanya melalui potensi ketaqwaan. Potensi yang pasti akan bersenyawa dengan jalan dan aturan Allah demi mengaplikasikan akhlaq karimah dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Itulah jalan yang lurus. Kalau sudah demikian, bukan hanya sekedar terhindar dari prilaku merusak dan menumpahkan darah bahkan mereka bisa menjadi makhluq kesayangan Allah yang derajat kemuliaannya melebihi makhluq lainnya termasuk malaikat sekalipun.
Atau jawabannya bisa : “ya”, bila mereka memperturutkan hawa nafsunya. Tunduk patuh pada potensi fujur (fasik) -juga diilhamkan kepadanya, hanya sebagai ujian-, menghambakan diri kepadanya. Terparah sampai pada tingkat me-Tuhan-kan hawa nafsu. Yakni dengan menyerahkan semua loyalitas dan pengabdian untuk eksistensi hawa nafsu belaka. Segala rasa cinta, benci, sedih senang, bahagia, sengsara, untung-rugi, ditakar dengan standar hawa nafsu. Akhirnya tidak ada kebenaran yang hakiki, semuanya serba semu dan relatif. Setiap orang punya aturan dan cara tersendiri untuk menentukan benar atau salah, diikuti atau ditinggalkan. Disebutkan dalam Al Qur’an:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan mengadakan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” QS. 45:23
Kondisi seperti ini yang mengakibatkan terjadinya berbagai kerusakan di muka bumi serta pertumpahan darah, sebagaimana yang disebut di atas. Hanya saja, anehnya justru jejak ini yang paling banyak diminati bahkan dijadikan trendy dari zaman ke zaman. Oleh karena itu pantas kalau kemudian Allah mengkarakterkan manusia sebagai makhluq yang amat ingkar, zalim, bodoh, tidak pandai bersyukur, kikir, dan lain sebagainya. Bagaimana tidak, tiada yang diberikan dan disediakan untuk manusia oleh Allah melainkan kebaikan belaka, sebagai bentuk kesempurnaan kasih sayang-Nya. Allah memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian melanjutkan penciptaan keturunannya dari sari pati air yang hina (Nuthfah/sperma). Lantas Ia menjaga proses ‘kejadiannya’ dalam ruang yang kokoh (uterus/rahim) sedemikian rupa, dengan berbagai mekanisme pertumbuhan dan perkembangan. Padahal pada fase ini manusia belum ada apa-apanya, ia baru sebentuk gumpalan yang sangat sensitive dan rawan. Hanya sekedar goncangan dan benturan kecil bisa menghentikan pertumbuhannya, lalu mati. Namun Allah menyelimuti dengan fasilitas perlindungan yang sempurna, sampai ia terlahir ke dunia, ia telah dinanti berjuta sarana hidup yang akan memelihara keberlangsungannya, memudahkan gerak perjalanannya. Tanah yang menumbuhkan beragam tanaman sebagai salah satu unsur terpenting dari zat makanan, kemudian komposisi udara yang ideal pembentuk pernafasan, cahaya matahari sebagai sumber energi, air syarat mutlak kehidupan, binatang, awan, sirkulasi hujan, gunung-gunung, hutan, sungai, danau, laut bahkan sampai struktur alam yang lebih makro: matahari ‘dan kawan- kawan’, atau dimensi kehidupan mikro: mikroba, bakteri, virus, jamur, sel, dan lain-ain, semuanya bahu membahu memfasilitasi kehidupan manusia dan memberikan kenyamanan kepadanya. Mereka memang sengaja ditundukkan untuk kebutuhan manusia.
“Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki bagimu, dan Dia menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari ni’mat” QS. Ibrahim:32-34
Dan yang paling penting serta terbesar dari pada semua kebaikan Allah di atas adalah: Kenikmatan petunjuk menuju jalan yang diridhoi-Nya melalui diutusnya para nabi serta diturunkannya Al Kitab, firman-Nya.
Kemudian apa balasan manusia terhadap tebaran kenikmatan yang Allah hamparkan tersebut? Apakah mereka bertambah tunduk dan bersyukur? Mestinya demikian. Namun kenyataan berbicara lain. “….. amat sedikit kamu yang bersyukur” (QS.32:9). “……akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.30:30). Kebaikan dan kenikmatan yang turun dari Allah kepada manusia, kejahatan dan kedurhakaan yang naik kepada Allah dari manusia. Sekali lagi, pantas sekali kalau kemudian Allah menyebut mereka sebagai amat zalim, ingkar, kufur nikmat, jahil, durhaka, dlsb. Mereka makhluq yang tidak tahu diri.

Dalam kondisi seperti ini pasti akan datang teguran dari Allah, bisa berupa bencana alam di darat maupun di laut, kelaparan ,wabah penyakit, kezaliman, dll, agar mereka merasakan kesengsaraan dan kemelaratan, kalau-kalau mereka ingin kembali, memohon kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (Rasul-Rasul) kepada umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan supaya mereka bermohon kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri” QS.Al An’am:42.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan ulah tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali” QS. Ar Rum:41

Maka kembalilah kepada Allah dengan :
1. Mengingat Allah, memohon ampun kepada Nya, menyesali kesalahan .
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” QS. Ali ‘Imran:135.

2. Bertaubat, mengadakan perbaikan, berpegang teguh pada (agama) Allah, dan tulus ikhlas beribadah karena Nya.
“Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar” QS. An Nisa:146

3. Berpegang teguh pada sunnah Rasulullah dan Khulafaurrasyidin al Mahdiyyin, dan menjauhi semua bid’ah.

“Aku wasiyatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung, dan aku wasiyatkan agar kalian mendengar dan taat, walaupun yang mengamiri kalian adalah seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya barang siapa yang hidup sesudahku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin Al Mahdiyyin (para kholifah yang lurus dan diberi petunjuk), gigitlah ia dengan gigi gerahammu dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama, karena semua yang bid’ah itu adalah sesat” (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah. Disahihkan oleh Syaik Salim Al Hilali).

4. Menetapi Jama’ah Muslimin dan Imam mereka.
”Adalah orang-orang (para Shahabat) bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan dan adalah saya bertanya kepada Beliau tentang kejahatan, khawatir kejahatan itu menimpaku. Maka saya bertanya: Ya Rasulullah sesungguhnya kami dahulu berada dalam Jahiliyyah dan kejahatan, maka Allah mendatangkan kepada kami dengan kebaikan ini (Islam). Apakah sesudah kebaikan ini timbul kejahatan? Rasulullah menjawab:Ya. Saya bertanya: Apakah sesudah kejahatan itu datang kebaikan? Rasulullah menjawab:Ya, tetapi di dalamnya ada kekeruhan (dakhon). Saya bertanya: Apa kekeruhan itu? Rasulullah menjawab: Yaitu orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku –dalam riwayat Muslim: Kaum yang berprilaku bukan dari sunnahku dan orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku, engkau ketahui dari mereka itu dan engkau ingkari- . Aku bertanya: Apakah sesudah kebaikan itu akan ada lagi keburukan? Rasulullah menjawab: Ya, yaitu adanya penyeru-penyeru yang mengajak ke pintu-pintu jahannam, barang siapa mengikuti ajakan mereka, maka mereka melemparkannya ke dalam jahannam itu. Aku bertanya: Ya Rasulullah tunjukkan sifat-sifat mereka itu kepadaku. Rasulullah menjawab: Mereka itu dari kulit-kulit kita, dan berbicara menurut lidah-lidah kita. Aku bertanya: Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian? Rasulullah bersabda: Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imam mereka. Aku bertanya: Jika tidak ada bagi mereka Jama’ah dan Imam? Rasulullah bersabda: Hendaklah engkau keluar menjauhi firqoh-firqoh itu semuanya, walaupun engkau sampai menggigit akar kayu hingga kematian menjumpaimu, engkau tetap demikian”. (HSR.Bukhari, Muslim & Ibnu Majah).

Sekali lagi, maka kembalilah kepada Allah, selagi masih di dunia, sebelum benar-benar dikembalikan kepada-Nya.
Wallahu a’lam bish showab.

Yahudi VS Khilafah

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…….”.
QS. Al Maidah:82

Yahudi, sejak dahulu hingga sekarang masih tetap sama: Memusuhi islam. Hanya bedanya adalah kalau dulu pada masa Rasulullah dan para shahabat Yahudi tidak mampu berbuat banyak. Makar dan kelicikan mereka tidak sanggup sedikit pun menerobos shaf kaum muslimin. Maka sekarang adalah kebalikannya,
Yahudi betul-betul menjadi momok bagi Islam dan Muslimin. Secara materi mereka “memiliki segalanya”. Mereka menguasai dunia moneter dan perbankan, media massa (cetak dan elektronik dengan oplah terbesar), jaringan informasi dunia, jaringan lobi internasional (antara lain PBB dan AS), kantor berita negara-negara besar, bisnis senjata, berbagai industri kebutuhan rumah tangga (seperti Nestle, Danone), dan lain-lain
Oleh karenanya tidak mengherankan kalau kemudian mereka mampu memegang kendali opini dunia atau sirkulasi dolar internasional. Salah satu contohnya yang sangat jelas adalah, mereka mampu mengalihkan perhatian dan membungkam mulut dunia internasional untuk mendiamkan kekejaman mereka terhadap muslimin Palestina yang terjadi setiap detik saat ini.
Lantas mengapa bisa demikian? Apa yang menyebabkan kekuatan Yahudi sekarang bertambah “hebat”?
Sebenarnya sama sekali tidak ada kekuatan mereka bertambah. Mereka tetap seperti yang dulu apa adanya, dan sampai kapan pun tetap seperti itu. Mereka tetap sekelompok manusia yang dilaknat oleh Allah akibat berbagai prestasi kejahatan yang mereka buat tiada henti. Mereka memiliki karakter jelek yang tiada pernah berubah. Dalam Al Quran secara detail diterangkan, antara lain berikut ini:
1. Pengecut
Mereka berkata:"Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja". (QS. 5:24).
2. Suka maksiyat terhadap pemimpin
Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata:"Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku". Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka……”. QS. 2:248)
3. Mereka hanya mentereng dipenampilan, namun sebenarnya seperti “kayu yang tersandar”
“Dan apabila melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar……” (QS. 63:4)
4. Dari luar terlihat bersatu padu, padahal mereka berpecah belah.
“…..Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” (QS. 59:14)
5. Mereka hanya berani berperang “dalam kampung yang berbenteng” atau dari balik tembok.
“Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat……”(QS. 59:14).
6. Jika mereka berani bertempur, mereka pasti akan “berbalik ke belakang”
“Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan.” (QS. 3:111)
7. Suka berkhianat
“…dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhya Allah menyukai orang-orang berbuat baik”. (QS. 5:13)

Adapun bahwa mereka saat ini terlihat sangat “hebat” sebagaimana disebutkan di atas, lantaran lawan mereka sedang lemah. Muslimin, satu-satunya musuh “abadi” mereka, sedang mengalami problem internal yang teramat berat. Dan koreksi yang paling penting terhadap kelemahan muslimin ini adalah bahwa mereka hidup dalam situasi fitnah akibat ditinggalkannya syariat khilafah ‘ala minhaajin nubuwwah.
Padahal khilafah adalah kekuatan muslimin. Khilafah berarti kembalinya muslimin kepada manhaj perjuangan Rasulullah dan empat shahabat pelanjut kepemimpinan beliau. Seperti yang beliau perintahkan dalam sebuah riwayat: “…Maka dari itu hendaklah kamu berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin Al mahdiyyin (para kholifah yang mendapat petunjuk yang benar), hendaklah kamu pegang teguh akan dia, dan gigitlah dengan gigi gerahammu…..” HR. Ahmad. Khilafah juga bermakna bersatunya kaum muslimin dalam bingkai ketaatan kepada Allah demi tegaknya kalimat li’ila kalimatullah. Itulah umat terbaik yang memancarkan sinar rahmatal lil ‘alamin dan menggetarkan musuh.
Fakta bahwa muslimin kuat dengan tegaknya khilafah dan sebaliknya yahudi menjadi tak berkutik adalah seperti yang banyak tercatat dalam lembaran tarikh, yang antara lain:
Berbagai peperangan yang terjadi pada masa Rasulullullah (tercatat dalam tarikh kurang lebih sebanyak 27 kali peperangan, ditambah 60 kali pengiriman ekspedisi pasukan), senantiasa dimenangkan oleh kaum muslimin. Seperti perang Badar, perang Uhud, perang Khandaq, perang Tabuk, perang Hunain, Fathul Makkah, dan lain-lain. Padahal secara logika tidak mungkin mereka dapat mengalahkan musuh, karena diatas kertas perhitungan kekuatan mereka jelas jauh di bawah kekuatan musuh. Sebut saja seperti yang terjadi pada perang Mu’tah, kaum muslimin hanya berkekuatan 3000 orang dengan perlengkapan dan perbekalan sederhana, bisa mengalahkan 200.000 pasukan musuh (tentara Rumawi) yang terlatih dengan perlengkapan dan perbekalan standar.
Bagaimana dengan Yahudi pada waktu itu? Ada beberapa insiden, seperti pengusiran Bani Nadhir dan Qainuqa dari Madinah, pengkhianatan Bani Quraidzah pada perang Ahzab, perang Khaibar, adu domba Syasy bin Qeis dan lain-lain. Semua insiden frontal itu dalam sejarah bukanlah peristiwa yang besar, walau terasa teramat menyakitkan. Hal ini karena, pola peperangan mereka –sebagaimana yang diungkap di atas- adalah pola pengkhianatan, penipuan, dan pengecut.
Begitupula yang terjadi pada masa kepemimpinan empat kholifah sesudah Rasulullah, Yahudi benar-benar tidak berkutik. Klimaksnya, pada masa kholifah Umar ibnul Khoththob mereka diusir seluruhnya dari Jazirah Arab lantaran berbagai tindakan buruk yang tiada henti mereka lakukan terhadap islam dan muslimin.
Namun apakah mereka kapok? Tidak sama sekali. Mereka sudah tertutup untuk menerima kebenaran islam. Hati mereka sudah sekeras batu, bahkan lebih keras lagi, yang ada hanyalah kedengkian dan kebencian terhadap islam. Allah mengabadikan dalam Al Quran: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka…….”QS. Al Baqarah:120.
Namun waktu terus berlalu. Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Ternyata perode kekhilafahan di kalangan muslimin harus berakhir. Setelah syahidnya Kholifah terakhir (‘Aly bin Abi Thalib), yang dibunuh oleh pemberontak, Muawiyah bin Abi Sufyan secara resmi mengganti pola kepemimpinan, tidak lagi mengikuti jejak empat kholifah sebelumnya, akan tetapi mengangkat dirinya sebagai Raja, Raja pertama dalam sejarah islam, yang kemudian diikuti oleh pelanjutnya silih berganti.
Sebuah analisa sejarah yang cukup bagus tentang masalah ini adalah, sebenarnya penyebab utama bergantinya pola kepemimpinan dari Khilafah ke Mulkan (kerajaan) yang diawali oleh berbagai kemelut internal, bukan karena serangan konspirasi eksternal (Yahudi, dengan figure sentralnya: Abdulah bin Saba), namun akibat “penyakit hati” yang mulai merasuk pada sebagian muslimin. Rasulullah menyebutnya dengan: al wahn, (cinta dunia dan takut mati). Selain itu, terjadi pula berbagai perilaku tidak thoat terhadap kholifah sehingga bintik-bintik ikhtilaf dan tafarruq mulai terlihat. Allah menjelaskan dalam al quran, kalau demikian halnya kondisi muslimin maka yang akan terjadi berikutnya adalah: menjadi gentar dan hilang kekuatan.
“Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. 8:46).
Bagi Yahudi ini adalah kesempatan emas. Beralihnya dari Khilafah ke Mulkan berarti terbuka peluang untuk mengobok-obok muslimin. Kemudian mereka benar-benar memanfaatkan momentum tersebut untuk membuat berbagai makar jahat demi kehancuran islam dan muslimin. Waktu-waktu selanjutnya adalah terjadinya rentetan fitnah di kalangan muslimin. Timbulnya firqah-firqah (Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, dll), perpecahan umat, bid’ah, khurafat, syirik, dan lain sebagainya. Hingga tumbangnya symbol kekhilafahan Turki Utsmani pada tahun 1924 adalah bagian terpenting dari kerja keras mereka.
Lantas bagaimana nasib muslimin setelah itu? Jangan ditanya lagi. Muslimin benar-benar menjadi bulan-bulanan dan objek kebiadaban mereka. Pembantaian berkedok keadilan atau keamanan, perampasan hak, pembodohan, pelecehan, dan lain sebagainya dengan sangat sistematis mereka lakukan terhadap islam dan muslimin hingga saat ini.
Akhirnya dalam posisi seperti ini, sebenarnya muslimin tidak ada pilihan lain, kecuali: kembali kepada Allah dan Rasul Nya dengan menegakkan Khilafah ‘ala minhaajin Nubuwwah, mulai dari sekarang. Semoga Allah memudahkan. Wallahu a’lam bishshowwab. iR




Nasehat Buat Sang Penguasa

Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim Al Azdi adalah seorang ulama yang berasal dari daerah Balkhan dan hidup pada masa kurun abad ke-9. Pada suatu kesempatan ia dipanggil oleh penguasa islam Bani Abbasiyah di Baghdad. Sang penguasa bernama Harun Al Rasyid (berkuasa dari 786-809 M).
Selanjutnya Harun meminta nasehat kepada Syaqiq. Syaqiq pun berkata memulai nasehatnya: “Allah Yang Maha Besar telah memberi kepadamu kedudukan Abu Bakar yang setia, dan Dia menghendaki kesetiaan yang sama darimu. Allah telah memberimu kedudkan Umar yang dapat membedakan kebenaran dari kepalsuan. Dia menghendaki engkau dapat pula membedakan kebenaran dan kepalsuan. Allah telah memberimu kedudukan Utsman yang memperoleh cahaya kesederhanaan dan kemuliaan. Dia menghendaki agar engkau juga bersikap sederhana dan mulia. Allah telah memberikan kepadamu kedudukan ‘Ali yang diberkahi-Nya dengan kebijaksaan dan sikap adil. Dia menghendaki agar engkau bersikap adil dan bijaksana pula”.
“Lanjutkan !” pinta Harun. Syaqiq melanjutkan: “Allah mempunyai tempat yang diberi nama neraka, Dia telah mengangkatmu menjadi penjaga pintu neraka dan mempersenjatai dirimu dengan tiga hal: Kekayaan, pedang dan cemeti. Dengan kekayaan, pedang dan cemeti ini usirlah umat manusia dari neraka. Jika ada orang yang dating mengharap pertolonganmu, janganlah engkau bersikap kikir. Jika ada orang yang menentang perintah Allah, perbaikailah dirinya dengan cemeti. Jika ada yang membunuh saudaranya, tuntutlah pembalasan yang adil dengan pedang ini. Jika engkau tidak melaksanakan perintah Allah itu, niscaya engkau akan menjadi pemimpin orang-orang yang masuk ke neraka itu”
“Tambah lagi” desak Harun. Syaqiq meneruskan: “Engkau adalah sebuah telaga dan anak buahmu adalah anak-anak sungainya. Apabila telaga itu airnya bening, niscaya dia tidak akan tercemar karena kekeruhan anak-anak sungai tersebut. Apabila telaga itu keruh, bagaimana mungkin anak-anak sungai tersebut akan bening?”
“Lanjutkan!” seru Harun lagi. Syaqiq melanjutkan kembali nasehatnya: “Seandainya engkau hampir mati kehausan di tengah padang pasir dan pada saat itu ada seseorang menawarkan seteguk air, berapakah harga yang berani engkau bayar untuk mendapatkan air itu?”
“Berapa pun yang diminta” jawab Harun. “Seandaniya ia baru mau menjual itu dengan setengah kerajaanmu?”
“Aku akan menerima tawaran itu” jawab Harun. “Kemudian andaikan pula air yang telah engkau minum itu tidak dapat keluar dari dalam tubuhmu sehingga engkau terancam binasa, setelah itu dating pula seseorang menawarkan bantuannya kepadamu: Akan kusembuhkan engkau tetapi serahkan setengah dari kerajaanmu kepadaku, apa jawabmu?”. Harun lantas menjawab: “Akan kuterima tawaran itu”.
Kemudian Syaqiq mengakhiri nasehatnya: “Oleh karena itu, mengapa engkau membanggakan diri dengan sebuah kerajaan yang harganya hanya seteguk air yang engkau minum lantas engkau keluarkan lagi?”
Harun menangis kemudian melepas kepergian Syaqiq dengan penuh kehormatan.
Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari nasehat Syaqiq di atas. Karena tema yang ia sampaikan adalah tema yang universal. Setiap manusia yang diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin pada hakikatnya dihadapkan pada permasalahan yang tidak berbeda, dari dulu hingga sekarang. Mereka senantiasa bergelut dengan tanggung jawab, keadilan, keangkuhan sosial, perlindungan terhadap umat, dan keteladanan. Terlebih lagi bagi seorang mu’min, tampuk kepemimpinan adalah amanah. Ia sama sekali tidak pantas untuk dikejar dengan penuh ambisi apa lagi kalau sampai jadi bahan rebutan. Kelak di akhirat justru kepemimpinan menjadi penyesalan, lantaran beratnya pertanggung jawaban di hadapan Allah.
Jadi bagi setiap pemimpin, nasehat Syaqiq adalah sangat berarti, agar yang tergambar adalah amanah dan tanggung jawab bukan kekuasaan, ketinggian dan kehormatan.

My Face


Hikmah Dari Sebuah Insiden Perselisihan

Mulanya perasaan hasad (dengki) yang muncul dari seorang tokoh Yahudi di Madinah, lantaran melihat keakraban yang terjalin antara suku ‘Aus dengan suku Khazraj. Padahal dulu mereka saling bermusuh-musuhan. Bahkan saling bunuh dalam berbagai peristiwa peperangan. Namun ternyata setelah mereka mengikuti Muhammad, semua berubah. Mereka justru saling cinta dan kasih sayang.
Sang tokoh tadi –namanya Syasy bin Qeis- mengutus orang suruhan untuk menyusup diantara suku ‘Aus dan Khazraj, untuk mengingatkan pada luka lama yang sudah terkubur. Hampir berhasil. Hampir saja terulang permusuhan mereka dahulu. Mereka sudah adu mulut, saling lempar-lemparan sandal dan bahkan sudah akan mencabut pedang masing-masing.
Namun syukurnya Rasulullah saw segera tiba di tengah-tengah mereka dan bersabda: “Apakah dengan slogan-slogan dan isu-isu jahiliyyah (kalian akan bermusuhan kembali) sedang aku masih berada di tengah kamu?”, setelah bersabda demikian Beliau lantas membacakan beberapa ayat yang Allah turunkan pada saat itu.
“Dan berpegang teguhlah kamu kepada tali (dien) Allah seraya berjama’ah dan janganlah berpecah belah, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hati-hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk” (QS.3:103)
Ternyata kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya terlalu kental untuk dikikis noda-noda fanatisme kesukuan, begitu mendengar sabda Rasulullah dan ayat yang dibacakan Beliau, mereka menyatakan menyesal dan berdamai kembali seraya berpeluk-pelukan dan meletakkan senjata masing-masing.
Insiden tersebut hanya sebuah ‘paragraf’ kecil dari catatan panjang sejarah Rasulullah beserta para shahabat. Namun justru merupakan miniatur ideal kehidupan muslimin, yang tetap relevan untuk diambil hikmahnya hingga muslimin masa sekarang. Ini bisa dihayati paling tidak dari : Betapa agama islam mampu melumerkan segala dendam kesumat kesukuan, atau betapa kebencian serta kedengkian Yahudi terhadap umat islam yang tak pernah berakhir dan ini didukung dengan kelihaian mereka dalam menyusup, menfitnah, mengadu domba, serta segala bentuk trik-trik provokator (QS.2:120 dan 5:82). Kemudian, betapa isu yang paling sensitif untuk memprovokasi ukhuwwah adalah isu ashobiyah/kesukuan. Atau betapa cepat tanggapnya Rasulullah -sebagai pemimpin umat tertinggi- dalam menyelesaikan insiden tersebut, sehingga darah tidak sempat bersimbah, yang sekaligus pula mengindikasikan betapa perlu dan harus adanya pemimpin umat. Terakhir, betapa ayat tersebut dengan segala realisasi keimanan kepadanya menjadi terapi mujarab terhadap bentuk-bentuk tafarruq (perpecahan), baik yang berupa sekedar perselisihan individual hingga perang suku atau kabilah.
Karenanya seyogyanya ayat ini senantiasa relevan untuk dikumandangkan. Mengingat kejadian yang serupa insiden suku Aus - Khazraj sebagaimana di atas sudah terlalu banyak terjadi. Disamping itu masih banyak fakta-fakta sejarah lainnya yang hanya menjadi noda hitam perjalanan muslimin, dan ini terlalu pahit untuk diungkit.
Apa sebenarnya pesan yang Allah sampaikan dalam ayat tersebut sehingga benar-benar menjadi terapi? Yakni: Berpegang teguh pada agama Allah, kembali kepada persatuan muslimin, hindarkan segala bentuk perselisihan dan perpecahan, ingatlah akan ni’mat Allah, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.
Semuanya itu ibroh dari Allah: bertikainya Aus dan Khazraj, hasadnya Yahudi, Cepat tanggapnya Rasulullah, turunnya Ayat Allah, kembali lembutnya hati orang-orang Aus dan Khazraj, serta hikmah lainnya. Akan tetapi yang mampu mengambilnya sebagai i’tibar/pelajaran adalah mereka yang punya “pandangan” serta “pikiran” (QS.59:2). Itulah yang akan mendapat petunjuk, dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka berikut ketakwaan dari-Nya (QS.47:17). Wallahu a’lam bishowwab.

Selasa, 10 Juli 2007

Untuk Al Aqsho

Alhamdulillah, dapat juga kita bikin kayak gini.  Bagi saya ini adalah hal yang baru, namun berkat ada teman yang kasih info, n bakar semangat, kemudian sedikit bimbingan, trus jadi blog sederhana  ini. Rencana saya, ini mudah-mudahan bisa dijadikan media silaturahim, trus tukar pikiran, adu pendapat, sharing info, 
sarana dakwah dunia maya dan yang terpenting untuk tasyakur kepada 
Allah Subhanahu Wata'ala.

Teman-teman sesama blogger, saya sekarang lagi intens terhadap masalah mesjid Al Aqsho.Bagi kaum muslimin sedunia, mesjid ini adalah situs yang sangat sarat makna-makna historis keislaman dan mengandung keuniversalitasan islam. namun sayangnya, saat ini mesjid Al Aqsho dalam genggaman kolonialisme Yahudi Zionis Israel. So...para blogger, terutama yang peduli betapa beharganya nilai sejarah dan mulianya darah  manusia, yuuk kita bantu perjuangan pembebasan mesjid Al Aqsho dan kemerdekaan rakyat Palestina. Kita punya pikiran, kedua tangan, kedua kaki, sedikit harta, dan yang terpenting hati tulus yang senantiasa  mendoakan.